Skip navigation

Assalamu’alaikum wr. wb.

Kepada seluruh sahabat, kami infokan alamat blog kak Adi saat ini telah berubah menjadi

http://kakadi.info

Harap maklum dan kami tunggu link dan komentar serta masukannya.

Jazakumullah khoir

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Menjadi Pengawal Kuncup Kreativitas
dan Moralitas Anak-anak

“Apa kamu mau jadi pelukis, hah?! Saban hari kerjamu hanya menggambar saja!” keluh Pak Sam kepada Momo, anak semata wayangnya yang tengah asyik menggoreskan pastel warna di atas kertas gambarnya. Momo tampaknya sangat terganggu dengan kata-kata ayahnya. Meski tak seketika itu juga, ia menghentikan dan meninggalkan aktivitasnya yang sangat mengasyikkan itu, dan tanpa pamit ngeloyor pergi.
Dalam panggung seni kehidupan ini, banyak kita temui Pak Sam-Pak Sam lainnya. Dan tentu, banyak kita jumpai Momo-Momo yang lainnya pula. Masih banyak guru dan orang tua yang mengaitkan apa yang dilakukan anak-anak dengan capaian tujuan hidup mereka di masa depan. Itupun mereka lakukan secara matematis dan linear saja. Bila anak pintar matematika, ia akan jadi pakar matemtika kelak dewasa. Jika anak pintar bahasa, maka ia akan jadi ahli bahasa kelak. Anak pandai pendidikan Agama, ia akan jadi anak sholeh nantinya. Anak yang gemar menggambar akan jadi pelukis, anak yang suka menyanyi, menari, sepak-bola, maka ia akan menjadi apa kelak, sesuai kegemaranya itu.

Read More »

banner-atya1Setelah menelorkan 11 album lagu anak-anak untuk kalangan terbatas (yayasan SPA Yogyakarta), Kak Adi Kitana kembali meluncurkan sebuah album lagu bertajuk “Cinta Sholat”. Berbeda dengan album-album sebelumnya, kali ini ia membuat lagu media pembelajaran untuk kalangan usia yang lebih luas. Bukan saja anak-anak, bakan nenek-kakek pun bisa memanfaatkan media ini. Tema yang diusungnya adalah sesuatu yang sangat familier dalam kehidupan kaum muslimin, Sholat!

Kosep albumnya adalah memberi sumbang sih kepada siapapun yang ingin lebih memahami bacaan sholatnya. Ya, album Cinta Shlat ini dibuat dalam format nasyid tarjamah lafdhiyah. Lagu-lagu yang ditampilkan adalah seluruh bacaan dalam ibadah sholat. Dimlai lagu pertama Do’a Iftitah, dan diakhiri dengan lagu Do’a Sebelum Salam.

Dengan mempelajari album ini, diharapkan anak-aak khususnya akan lebih mudah memahami setiap arti dalam bacaan sholatnya.

Album cantik yang dikembangkan dari ide Ust. Muhroji al Jambari ini dilantunan seorang vokalis cilik sarat prestasi, Atya Sarah Faudina. Dan musiknya yang bergaya semi orkestra ditata dengan rapi dan mengesankan oleh arranger muda, Pandan P Purwachandra.

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Setyoadi Purwanto

(Kak Adi Kitana)

 

Tepuk Anak Sholeh ***

Aku *** Anak Sholeh ***

Rajin sholat *** Rajin ngaji ***

Orang tua *** Dihormati ***

Cinta Islam *** Sampai mati  !

Laa ilaha illallah Muhammadurrasulullah, Yes !

Siapa yang belum kenal tepuk ini? Bila anda suntuk di dunia pendidikan anak, TPA/TPQ/TK/RA/PAUD atau yang semisal dengan itu, mungkin anda tak lagi asing dengan tepuk di atas. Lahirnya Tepuk Anak Sholeh ini terinspirasi berbagai permainan tepuk yang telah dikembangkan lebih dulu pada kegiatan kepramukaan. Menurut penciptanya, Kak Adi Kitana, tepuk ini diciptakannya pada pertengahan tahun 1993 dan mulai disosialisasikan pada kegiatan-kegiatan pelatihan guru/ustadz akhir 1993. Selanjutnya ia membagi aneka permainan tepuk edukatif menjadi 5 tipe: 1) Tepuk Ikrar, 2) Tepuk Tanya Jawab, 3) Tepuk Gabungan, 4)Tepuk Berlagu, dan 5) Tepuk Simbolik.

Selain menyenangkan, permainan tepuk dalam dunia pendidikan anak-anak memiliki banyak manfaat lainnya. Permainan yang mudah, murah dan meriah ini dapat digunakan sebagai pemecah kebekuan suasana, menyatukan perhatian anak, membangun konsentrasi, meningkatkan kualitas kesehatan, meningkatkan keterampikan motorik serta kognitif (kecerdasan) anak.

Suasana belajar yang kaku dan menegangkan seketika cair dengan berbagai permainan tepuk edukatif. Anak-anak yang bengong, melamun, asyik dengan dunianya sendiri, ataupun mengobrol, dengan mudah dapat disatukan perhatiannya serta menjadi lebih focus konsentrasinya dengan permainan tepuk. Bahkan suasana yang gaduh nyaris tak terkendali bisa ditenangkan kembali dengan permainan ringan ini.

Studi pertama kali mengenai manfaat lagu yang dinyanyikan sambil bertepuk tangan, menyimpulkan bahwa manfaat dari tepuk tangan akan sangat baik dalam melaitih gerakkan otot dan syaraf anak-anak yang dilakukan dengan gembira dan riang. Aktivitas tepuk selanjutnya akan selalu mempengaruhi hormon kecerdasan di otak. Diungkapkan kegiatan tepuk tangan dapat melatih otak dan mempengaruhi perkembangan daerah otak yang lainnya.

Ditemukan bahwa anak-anak kelas satu, dua dan tiga sekolah dasar yang menyanyikan lagu sambil bertepuk tangan menunjukkan kemampuan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak yang menyanyi tanpa kegiatan bertepuk tangan dengan riang. Tepuk tangan dapat pula membantu melatih keterampilan motorik anak sehingga dapat menghasilkan tulisan tangan yang rapi, menulis dengan lebih baik serta sedikit membuat kesalahan ejaan.

Manfaat lainnya adalah anak-anak diajarkan melatih integritas sosialnya dengan teman-teman yang lain, sehingga kemampuan sosialisasinya lebih baik. Hal ini untuk melihat apakah anak-anak merasa terhibur dan terpesona dalam menyanyikan lagu sambil bertepuk tangan. Kegiatan ini ternyata menjadi salah satu hiburan bagi anak-anak.

Jika diamati, maka kegiatan ini sangat berfungsi sebagai acuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kebutuhan emosional, fisiologis, sosiologis dan kognitif anak-anak hingga ke tahap pertumbuhan berikutnya.

Era globalisasi dan informasi turut membawa pengaruh terhadap peri kehidupan social yang kadang kala akibatnya cukup memprihatinkan . proses perkembangan mengarah kepada hal-hal lahiriah yang semakin menipis jatidiri. Keadaan ini tak luput menimpa perkembangan kehidupan anak, termasuk music anak-anak.

Music anak-anak merupakan wacana bagi anak untuk mengungkapkan gagasan dan perasaannya sesuai dengan ciri khas setiap perkembangan mereka. Antara anak dengan music (nyanyian) ada keselarasan kaitan timbal balik yang harus dilihat dari dua sisi : sisi subjek adalah anak dan sisi objek adalah lagu. Dengan memperlakukan anak sebagai subjek, anak akan menghayati nilai dan sikap yang berguna bagi perkembangan dirinya menuju ke kedewasaan, sekaligus dapat mengembangkan kepekaan musikalnya secara sehat dan wajar. Apa yang dikhawatirkan telah terjadi, atau masih terjadi. Anak adalah objek.

Seminar Nasional dan Konser Musik Bagi Masyarakat yang diselenggarakan oleh Musik-FBS Universitas Negeri Yogyakarta pada saat ini meningkatkan kita betapa pentingnya music anak-anak sebagai salah satu wahana penumbuhan dan perkembangan kepribadian anak menjadi generasi bangsa dikemudian hari.

Lagu Anak-anak Dewasa ini

1.      Penampilan Anak

Semarak album kaset penyanyi anak muda usia  disertai video-klip yang ditayangkan di televisi merupakan bagian tak terpisahkan dalam proses promosi. Tidak ketinggalan promosi dari panggung ke panggung yang langsung di tonton. Mereka disebut artis cilik. Sebuah sebutan semu yang tidak pada tempatnya untuk anak yang baru berpengalaman sejuput dalam dunia kesenian. Dandanan yang mencolok, gaya menyanyi yang sedemikian rupa, membuat mereka menjelma seperti orang dewasa. Mereka hidup bukan dalam dunianya yang lugu, spontan, ceria, layaknya seorang anak, tapi dikendalikan , kreativitasnya dikerdilkan

2.      Isi Lagu dan Iringan

Isi lagu tidak menggambarkan ungkapan pikiran dan perasaan anak, tapi lebih dekat pada gagasan orang dewasa. Pesan lagu terkungkung pada tema yang itu-itu saja, kurang kaya menggambarkan keseluruhan pengalaman hidup anak, baik yang sudah dialami , yang sedang dialami maupun yang akan dialami. Tuturan lirik terjebak pada ungkapan-ungkapan klise.

Iringan music biasanya adalah steriotip lagu pop dewasa mngacu pada pola gaya irama music yang sedang “hit” pada saat itu. Tatanan music tidak menterjemahkan isi dan maksud lagu. Akibatnya pilihan  alat dan gubahan music miskin. Di tambah dengan sekelompok penari latar dengan gaya dan gerak-geraknya jauh dari mendukung tema lagu, tapi lebih dekat pada tiruan bentuk gerakan latar music orang dewasa

3.      Komersialisasi

Dalam hal cipta-mencipta lagu, seorang pakar antropologi menggolongkan dua macam bentuk penciptaan. Pertama ciptaan berdasarkan ilham yang didorong oleh perasaan seni; yang kedua, cipataan berdasarkan ilham yang didorong mencari untung secara komersial. Acuan penciptaan adalah selera pasar, apakah lagu itu laku dijual. Produk seni sama dengan komidi

Sesuai dengan kemajuan zaman, anak-anak dari semua lingkungan pendidikan dasar: mulai kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar, samapai tingkat menengah pertama mendapat suguhan sajian music secara audiovisual ditelevisi. Yang menjadi focus perhatian tidak lagi pada apakah lagu itu bermakna bagi kepentingan pendidikan anak, atau pun apresiasi music, melainkan lebih dari pada bentuk tayangan yang bakal menarik atau tidak bagi anak

Lingkungan

1.      Sekolah

Di sekolah lagu-lagu diajarkan dari album kaset, jaringan atau tidak sama sekali lagu baru diajarkan dari kitab nyanyian. Hal ini disebabkan antara lain, karena ada guru buta intonasi. Guru tidak mudah memilih lagu yang bermakna bagi tumbuh-kembang pendidikan anak seperti yang diharapkan. Kalaupun ada pelajaran music, bernyanyi, umumnya, diajarkan dengan cara yang kurang menarik, kering

2.      Keluarga

Di lingkungan keluarga, orang tua dengan segala kesibukannya demi tuntutan hidup terabaikan perannya sebagai filter yang seyogianya membantu anak menyaring music mana yang baik atau tidak bagi mereka

Penutup

Peragaan Lagu Anak-anak

Hakikat musik adalah :

a.       Bahasa nada, karena musik dapat di dengar, dikomunikasikan dalam nada

b.      Bahasa emosi, karena musik dapat mengungkapkan perasaan, seperti: senang, lucu, kagum, haru

c.       Bahasa gerak, karena musik memiliki gerak irama, melodi dan harmoni

Musik dapat berperan dalam hal:

a.       Mendorong gerak pikiran dan perasaan (aspek intelegensi, social, emosi, psikomotorik)

b.      Membangkitkan kekuatan dalam jiwa manusia

c.       Membantuk akhlak

Atas dasar itu pula pendidikan music, bukan sekedar memperbanyak perbendaharaan lagu, tapi seyogianya memberikan anak pengalaman musik

Berbicara tentang musik kita tak akan pernah lepas dari kesenian dan ilmu bunyi. Musik memang diidentifikasi dalam salah satu cabang seni, dan musik adalah cabang seni yang berhubungan dengan bunyi.
Sebagai bagian dari seni, istilah musik berasal dari bahasa Yunani Muse, yaitu nama dewa pelindung kesenian dan pengetahuan.  Abdullah Totong Mahmud mendefinisikan musik sebagai seni menyusun nada-nada menjadi pola bunyi yang mengandung arti. Selanjutnya menurut M. Soeharto, bunyi yang dikelompokkan dalam pengertian musik bukan saja berasal dari instrument musik, namun juga suara manusia (vokal).
Batasan suara atau bunyi secara luas memang tidak terbatas. Ada suara-suara alam/natural seperti angin mendayu, debur ombak, halilintar, gesekan daun, tetesan air, kobaran api, dan lain-lain. Ada pula suara-suara binatang  seperti jengkerik, katak, kokok ayam jantan, kicau burung, ringkik kuda, lenguh sapi, kumbang dan lain-lain. Selain suara alam dan satwa, tentu kita mengenal satu jenis suara yang dapat dikatakan suara paling sempurna (Maha Suci Alloh), yakni suara manusia yang sering disebut dengan vocal. Berbagai olah seni vocal seperti qira’ah, paduan suara, nasyid, shalawat, macapatan, masuk dalam kategori ini. Dalam perkembangan berikutnya, dengan akal budi karunia Alloh manusia menciptakan berbagai alat-alat musik dari yang sangat sederhana hingga alat/instrument yang paling canggih dan mahal. Apakah semua batasan itu dapat disebut musik? Ya, tentu saja.

Read More »

Kesenian sering diidentikkan dengan keindahan. Meski tak sepenuhnya benar namun begitulah sifat kesenian setidaknya menurut orang awam seperti saya. Apa yang kita pikirkan bila mendengar kata kesenian, terlepas dari apapun bentuk pengejawantahan karya seni,  apa yang ada di kepala kita bila mendengar kata kesenian tersebut? Alunan buluh perindu penyanyi atau suara emas para qori’, muadzin dan pelantun nasyid, lukisan penyentuh kalbu para khathat dan senirupawan berhatinurani, gerak laku indah dan agung para dalang pengawal iman, dan bentuk-bentuk berkesenian lainnya? Apa pula jadinya bila anak-anak didekatkan dan didekati dengan kesenian?
Lihatlah betapa setiap bocah menyukai lagu anak-anak yang riang. Mereka juga sangat gandrung mencorat-coret (menggambar) dengan media apapun (bahkan tembok dan lantai rumah pun jadi kanvas kreatif mereka, bukan?). Dan lihatlah bila mereka menari bersama, wow sungguh menyenangkan dan membahagiakan. Apa jadinya bila bocah-bocah kecil itu kita beri segumpal tanah liat atau plastisin? Atau apa yang akan mereka perbuat jika mereka melihat kita menggunakan cat warna-warni untuk mengecat pagar? Waw… tak bisa dibayangkan polah, tingkah dan ekspresi bocah-bocah itu dalam mengaktualisasikan diri berkesenian. Seru, berani, lepas, asyik dan indah. Yah Asyik dan indah itulah kata yang tepat digunakan dalam ketauladanan seni (metode pendekatan yang berorientasi pada happy learning). Sifat yang indah, menyenangkan, menggairahkan,  menyejukkan,  menenangkan,  mendamaikan  dan membahagiakan memungkinkan kesenian menyebarkan aroma moralitas dan kreativitas insaniah secara alami.
Karena banyaknya keterbatasan, penulis akan memvokuskan pembahasan ketauladanan seni pada seni musik/vokal dan gambar saja. Dua aktivitas seni yang paling banyak dilakukan anak-anak!  Tengok saja, hampir tak satu pun anak-anak di belahan dunia manapun melewatkan kesyikan pada dua aktivitas seni ini.

On air di Abdi Persada FM sebelum workshop

On air di Abdi Persada FM sebelum workshop

BARABAI LAGI1Barabai, Ahad 3 Mei 2009

Barabai memang istimewa. Antusiasme guru-gurunya begitu kuat. Hal itu tampak dari jumlah peserta workshop yang mencapai lebih 1000 orang guru. Gedung Murakata yang tak mungkin menampung mereka semua, memunculkan gagasan penyelenggaraan dua periode. Ya, selama roadshow di Kalimantan Selatan ini, hanya barabai yang menyelenggarakan sampai dua angkatan. Setelah hampir seminggu sebelumnya IGRA menyelenggarakan workshop dan seminar sehari, kali ini IGTKI Dinas Pendidikan Hulu Sungai Tengah mendapat giliran menyelenggarakan acara yang sama. Alhamdulillah untuk kedua kalinya workshop di Barabai berlangsung meriah dan penuh antusias

Banjarmasin, Sabtu2 Mei 2009

Sabtu dini hari, Kak Adi telah dijemput panitia di Hotel Wisata Banjarmasin. Seterusnya mereka melaju ke bandar setelah sempat mampir shalat jamaah subuh di masjid terdekat. Perjalanan diteruskan dengan perahu kecil yang mereka sebut ‘klothok’.Suasana pagi yang masih gelap dengan semburat cahaya samar-samar menerawang di ufuk timur menjadikan suasana begitu syahdu.  Berkali-kali Kak Adi dibuat takjub oleh indahnya suasana pagi di atas perahu klothok yang membawa rombongannya.

Semakin jauh perjalanan dan semakin terang, suasana semakin elok. Puluhan prahu sejenis denga berbagai ukuran mulai terlihat. Mereka adalah para pedagang yang menjajakan aneka dagangan di pasar terapung yang masyhur itu. Kata orang, belum afdhol bila ke Banjarmasin kita tak menikmati suasana pasar terapung.

Sebelum meninggalkan pasar terapung mereka sempat makan pagi dengan menu aneka jajanan tradisional. Uniknya, untuk mengambil jajanan itu mereka harus memancing dulu. Tentu saja tidak seperti memancing ikan. Pancing yang dimaksud adalah, tongkat panjang dengan ujung kawat tajam yang digunakan ‘mencocok’ setiap jajanan yang tersedia di atas perahu sang penjual. Wah, asyik juga ya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.