Menjadi Pengawal Kuncup Kreativitas
dan Moralitas Anak-anak
“Apa kamu mau jadi pelukis, hah?! Saban hari kerjamu hanya menggambar saja!” keluh Pak Sam kepada Momo, anak semata wayangnya yang tengah asyik menggoreskan pastel warna di atas kertas gambarnya. Momo tampaknya sangat terganggu dengan kata-kata ayahnya. Meski tak seketika itu juga, ia menghentikan dan meninggalkan aktivitasnya yang sangat mengasyikkan itu, dan tanpa pamit ngeloyor pergi.
Dalam panggung seni kehidupan ini, banyak kita temui Pak Sam-Pak Sam lainnya. Dan tentu, banyak kita jumpai Momo-Momo yang lainnya pula. Masih banyak guru dan orang tua yang mengaitkan apa yang dilakukan anak-anak dengan capaian tujuan hidup mereka di masa depan. Itupun mereka lakukan secara matematis dan linear saja. Bila anak pintar matematika, ia akan jadi pakar matemtika kelak dewasa. Jika anak pintar bahasa, maka ia akan jadi ahli bahasa kelak. Anak pandai pendidikan Agama, ia akan jadi anak sholeh nantinya. Anak yang gemar menggambar akan jadi pelukis, anak yang suka menyanyi, menari, sepak-bola, maka ia akan menjadi apa kelak, sesuai kegemaranya itu.
Pendidikan seni di sekolah formal kuno, banyak berubah menjadi pendidikan sains dan matematika saja. Anak yang dianggap pintar pendidikan musik adalah anak yang menguasai notasi balok, dan berbagai teori musik lainnya, bukannya anak yang menjadi halus budi karena olah musikalnya. Beberapa guru memberikan nilai seni musik tertinggi kepada murid-muridnya yang mampu memainkan ‘alat musik elit’, seperti gitar, biola, piano, flute, dan seabrek jenis alat musik lain yang biasanya digunakan memainkan nomor-nomor istimewa para musisi bule dalam orchestra. Ironinya, sebagian besar murid yang seperti ini, mereka belajar musik pada lembaga-lembaga kursus musik di luar sekolah, dan bukan karena didikan sang guru.
Lalu, bagaimana dengan beberapa anak yang lihai memainkan bebunyian dalam kelasnya? Bangku-bangku usang yang tiap hari menemani mereka belajar, seolah disulap menjadi alat musik yang dinamis. Apakah anak-anak ini mendapat apresiasi yang sama dengan si pemain biola, piano dan flut tadi? Bukankah mereka inilah ‘si bakat alam’? Mereka tak pernah kursus pada guru-guru musik dengan biaya mahal. Mereka mampu mengiringi lagu macam apapun, dan sekaligus menikmati permainan dan lagu yang mereka nyanyikan, meski sering dengan suara sumbang? Boro-boro mendapat apresiasi dan nilai tinggi, mereka ini malahan sering dicap sebagai tukang onar yang tak berguna, dan bikin bangku-bangku belajar di sekolah cepat rusak!
Alangkah bahagianya ’Mahar’ si Laskar Pelangi, karena ia memiliki guru seperti Bu Muslimah. Yang mengerti menghargai ketrampilan alaminya, memainkan alat musik bangku belajarnya. Konon, dengan ketrampilan spesialnya ini, ia kemudian mengharumkan nama SD Muhammadiyah Gantong tempatnya belajar besama ‘Laskar Pelangi’ lainnya.
Beberapa guru yang lainnya, ‘lebih suka’ memberi nilai tertinggi dalam pendidikan musik, untuk murid-muridnya yang bersuara emas. Walau tak jarang di antara mereka adalah anak-anak yang over confidence dan minim tata krama, sopan-santun. Ketika saya mengajar pendidikan musik di sebuah SD, di Yogyakarta, saya memiliki seorang murid yang istimewa. Bukan karena kemampuan vokalnya yang di atas rata-rata, bukan pula karena ia mahir memainkan alat musik istimewa. Si kecil yang saat itu masih duduk di kelas 3 SD itu biasa-biasa saja. Bahkan kemampuan musikalitasnya di bawah kemampuan rata-rata temannya. Loh?! Ya, satu-satunya keistimewaannya adalah, antusiasmenya yang luar biasa saat berlatih. Hampir setiap latihan paduan suara, ia selalu hadir pertama kali, sebelum seorangpun temannya yang lain datang. Ia tampak begitu bahagia dalam setiap sesi latihan. Ia begitu luwes bergaul dengan semua temannya. Ia suka berbagi dalam hal apapun dan kepada siapapun. Kepribadiannya jauh dari sifat sombong (mungkin karena tak ada yang bisa ia sombongkan, ia sangat pas-pasan). Terlepas dari semuanya, saya sangat bangga padanya. Ia bahagia berkesenian,dan tampak pula, seni membahagiakannya. Seni melembutkan hatinya. Seni membuatnya belajar arti perbedaan dan kemudian ia menghargainya. Ia begitu jujur, dan bahagia menerima dirinya apa adanya. Suaranya memang sumbang, namun kepribadiannya lurus dalam siraman kesenian yang ia nikmati. Seni nyata-nyata telah bekerja dalam jiwanya secara menakjubkan.
Dalam pelajaran menggambar, hampir tak ada bedanya. Masih banyak Guru yang lebih suka memberi nilai tinggi kepada mereka yang gambarnya rapi, bersih dan ‘persis’ bentuk dan proporsinya, serta menggunakan komposisi warna-warna yang baku. Bahkan terkadang, penggunaan warna pun diteorikan secara matematis pula. Penerapan ilmu komposisi warna pun begitu kaku. Warna ini tak serasi jika berdekatan dengan warna itu. Warna ‘anu’ kurang pas dipadu dengan warna ‘anu’, bentuk ini dan itu tidak selayaknya diberi warna ‘anu’ dan seterusnya. Yang terjadi kemudian, anak-anak berkesenian dengan ekspresi bayangan sang Guru. Fisiknya berolah kreasi seni, namun jiwanya dibelenggu dan dipaksa mengikuti ekspresi sang Guru. Sungguh ironi, seni seharusnya berkenaan dengan pengalaman-pengalaman mereka yang unik, kaya, dan sangat pribadi. Namun, sebagian besar Guru kesenian telah memasang ‘Style Lifes’ (dewasa) untuk mengajarkan seni pada anak-anak. Kata indah, menarik, mempesona, semuanya diukur dengan batasan dan paradigma sang Guru.
Seni,
ibarat Baju bagi Anak-anak
Bagi anak-anak, belajar seni ibarat mengenakan baju. Orang dengan seragam ABRI akan tampak lebih gagah. Orang dengan baju dokter akan tampak lebih berwibawa. Dan, orang dengan baju guru akan tampak bersahaja. Maskipun siapa yang mengenakan baju polisi atau tentara, belum tentu ia seorang Polisi atau tentara, yang memakai baju dokter belum juga pasti apakah ia dokter, begtu pun orang yang memakai baju seragam guru, belum tentu ia seorang guru. Namun, yang pasti, sebuah baju pasti sangat besar pengaruhnya pada penampilan, bahkan kemudian sikap seseorang. Bila anda mengenakan baju taqwa putih bersih, lengkap dengan sarung, pecis dan sajadah di bahu, tentu anda akan berfikir sejuta kali untuk sekedar mampir ke tempat yang berbau maksiyat. Demikianlah pendidikan dan ketauladanan seni bekerja pada jiwa anak-anak. Mereka tidak harus menjadi seorang pelukis beneran walaupun kegemarannya melukis sangat besar. Anda pun tak perlu cemas, bila putra lelaki anda tampak gemar menari atau menyanyi di usianya yang sangat belia.
Ikhlaskan seni menjadi salah satu baju anak-anak kita. Baju yang sesuai akan memberi banyak manfaat, bagi siapa yang mengenakannya. Beberapa fungsi baju yang dapat diambil terkait pembelajaran seni, antara lain: (1) fungsi keindahan, (2) fungsi kenyamanan, (3) fungsi kesehatan, (4) fungsi moral, dan (5) fungsi kreativitas.
Sebagaimana baju mempercantik pemakainya, maka demikianlah seni, ia menjadikan ‘pemakainya’ semakin berpribadi halus dan indah. Bila baju membangun fungsi kenyamanan bagi pemakainya, maka seni pun membuat ‘pemakainya’ betah dan nyaman, karena melaluinya anak-anak tumbuh rasa percaya diri dan memiliki kebanggaan. Saya ingat, betapa bangganya saya ‘mengenakan’ baju seni saya, ketika teman-teman memandang dengan kagum karya lukis saya yang dipuji habis-habisan oleh guru kelas 5 di SD saya dulu.
Selain fungsi keindahan dan kenyamanan, baju memiliki fungsi kesehatan. Ia menjaga pemakainya dari terik matahari dan melindunginya dari kuman-kuman penyakit. Maka demikian pula, seorang yang memiliki penyaluran ekspresi emosi seperti seni, akan menjadi lebih tenang dan sehat secara fisik maupun psikis. Bukankah sebagian besar penyakit lebih banyak diakibatkan faktor psikis ketimbang fisik semata?
Seni juga memiliki fungsi moral, sebagaimana baju menjadi salah satu tolok ukur moral dan kepribadian bagi pemakainya. Seseorang yang terbiasa mengenakan baju rapi, bersih dan sopan, akan dilihat sebagai orang yang bermartabat. Sebaliknya, orang-orang yang terbiasa mengenakan baju seenaknya. Kumal, bau, kotor dan berantakan, pasti akan dinilai sebaliknya pula. Kita tidak sedang belajar menilai orang hanya dari penampilan luarnya saja, namun setiap pilihan kita pastilah mengandung resiko masing-masing. Ada peribahasa Jawa yang tepat umtuk melukiskan hal ini, “Ajining raga gumantung saka busana, ajining diri gumantung saka lathi.” Penampilan seseorang tergantung busana yang dikenakannya, dan harga diri seseorang tergantung lisannya. Secara cerdas peribahasa ini mengkaitkan busana dengan martabat dan harga diri seseorang. Maka demikian pula pembelajaran seni pada anak-anak, harus diarahkan pada pembentukan watak karakter positif sesuai fitrah Islam. Baju seni yang baik, akan menjadikan pemiliknya semakin bermartabat, di hadapan Allah dan sesama manusia, bukannya dilaknat Allah dan rendah di hadapan manusia.
Fungsi kreativitas tercermin dari rasa estetis pemakai baju. Desain yang tepat dengan proporsi tubuh, komposisi warna yang tepat dan padu, serta pemanfaatan yang sesuai dengan momentum dan waktu. Desain sebuah baju terus berkembang, seiring perkembangan zaman, demikian pula seni selalu berubah. Perubahan ini adalah spirit utama sebuah proses kreativitas, dan kreativitaslah yang kemudian merubah wajah dunia semakin maju. Seorang yang berbaju seni, tak akan pernah berhenti. Ia rindu perubahan dan peningkatan kualitas. Dan semua perubahan diarahkan menuju kabaikan dan ridlo Tuhan-nya. Seorang yang mengenakan baju seni akan menjadi pembelajar sejati, terus belajar, dan belajar.
Untuk mewujudkan lima fungsi seni sebagaimana lima fungsi baju di atas, penulis menawarkan “4 prinsip baju” sebagai pedoman menilai aktivitas berkesenian yang dilakukan anak-anak. Prinsip baju yang dimaksud adalah:
B ahagia : Setiap aktivitas kesenian anak-anak seharusnya membuat mereka bahagia melakukannya, Bukan malah takut, tertekan dan terbatasi. Aktivitas seni Islam memang harus berlandaskan fitrah Islam, namun bukan berarti merenggut kebahagiaan masa bermain mereka.
A presiatif : Bila anak tak tahu apapun tentang apa yang ia lakukan dalam berolah seni, kita harus introspeksi. Anak terbiasa menggunakan seni sebagai bahasanya dan bukan sekedar kegiatan tak bermakna.
J ujur : Aktivitas kesenian anak-anak, adalah ekspresi kejujuran emosinya. Setiap goresan, setiap gerak, dan setiap lantunan nada suaranya merupakan ekspresi murni dan bukan ekspresi bayangan orang tua atau gurunya.
U ntukku : Jangan menuntut aktivitas kesenian anak-anak dengan kacamata kita. Seni mereka adalah untuk mereka. Maka jangan pernah mencela ekspresi seni mereka, karena hal itu akan membuatnya takut berkarya. Biarkan mereka berekspresi tanpa kritikan.
Sebagai orang tua-guru pengawal nilai moral dan kreativitas, selayaknya kita membiarkan anak-anak kita mengenakan bajunya. Jangan biarkan raga mereka telanjang, begitu pun dalam ekspresi diri dan jiwa mereka. Kita pasti tak rela, mereka panas, dingin, dan sakit hanya karena tak ada baju yang melindunginya dari terik mentari, dinginnya udara malam, dan kuman-kuman penyakit. Pilihkan atau dorong mereka memilih sendiri baju-baju terbaik untuk jiwa mereka.