Skip navigation

Berbicara tentang musik kita tak akan pernah lepas dari kesenian dan ilmu bunyi. Musik memang diidentifikasi dalam salah satu cabang seni, dan musik adalah cabang seni yang berhubungan dengan bunyi.
Sebagai bagian dari seni, istilah musik berasal dari bahasa Yunani Muse, yaitu nama dewa pelindung kesenian dan pengetahuan.  Abdullah Totong Mahmud mendefinisikan musik sebagai seni menyusun nada-nada menjadi pola bunyi yang mengandung arti. Selanjutnya menurut M. Soeharto, bunyi yang dikelompokkan dalam pengertian musik bukan saja berasal dari instrument musik, namun juga suara manusia (vokal).
Batasan suara atau bunyi secara luas memang tidak terbatas. Ada suara-suara alam/natural seperti angin mendayu, debur ombak, halilintar, gesekan daun, tetesan air, kobaran api, dan lain-lain. Ada pula suara-suara binatang  seperti jengkerik, katak, kokok ayam jantan, kicau burung, ringkik kuda, lenguh sapi, kumbang dan lain-lain. Selain suara alam dan satwa, tentu kita mengenal satu jenis suara yang dapat dikatakan suara paling sempurna (Maha Suci Alloh), yakni suara manusia yang sering disebut dengan vocal. Berbagai olah seni vocal seperti qira’ah, paduan suara, nasyid, shalawat, macapatan, masuk dalam kategori ini. Dalam perkembangan berikutnya, dengan akal budi karunia Alloh manusia menciptakan berbagai alat-alat musik dari yang sangat sederhana hingga alat/instrument yang paling canggih dan mahal. Apakah semua batasan itu dapat disebut musik? Ya, tentu saja.


Dalam peradaban Islam Timur Tengah, musik yang  dikembangkan selama berabad-abad kebanyakan dilakukan oleh para sufi seperti Jalal Al-Din Rumi dan Amir Khusraw (Anda tentu mengenal pula perintis dan pakar musik modern Al Farabi). Dalam hal ini musik menjadi sangat erat dengan sastra, khususnya puisi, menciptakan bahasa pengantar yang sempurna untuk mengagungkan Allah dan pertolongan yang ampuh untuk senantiasa mengingatnya.
Puncak seni suara (musik) dalam Islam, meskipun kata musik tidak pernah digunakan untuk ini, adalah tilawah Al Qur’an yang mulia. Islam memang tidak mempunyai musik masjid yang bisa disamakan dengan musik kebaktian gereja umat Nasrani. Tidak ada juga jabatan pendeta atau koor (nyanyian bersama) dalam masjid, dalam pengertian Barat. Sekalipun demikian, musik pujian kepada Alloh selalu dapat ditemui sebagai sebuah ekspresi yang bersungguh-sungguh baik di dalam maupun di luar masjid. Di Indonesia, musik “lantunan” ayat-ayat al Qur’an, adzan atau panggilan sholat, dan berbagai ragam nyanyian-nyanyian religi rakyat yang begitu mudah kita temukan di daerah-daerah kantong kaum muslimin di seluruh wilayah tanah air.

Dalam sebuah workshop Teknik Cipta Lagu Anak-anak yang diprakarsai SPA (Silaturrahim Pecinta Anak-anak) Yogyakarta, seorang peserta berbicara cukup keras. Setelah selama kurang lebih 30 menit sebelumnya ia bermasam muka, ia kemudian mengungkapkan keberatan hatinya. Menurutnya contoh-contoh lagu anak-anak yang dipilih sebagai model dalam pelatihan tidak mencerminkan lagu-lagu yang Islami. Ketika kami minta pendapatnya tentang kriteria lagu islami yang dimaksud, ia sempat kebingungan sebelum kemudian menjawab dengan kurang yakin, lagu Islami adalah lagu yang di dalamnya mencantumkan kalimat-kalimat tauhid, istilah-istilah dzikir seperti Subnalloh, Alhamdulillah, Allohu Akbar, Laailaha illallah, dan lain-lainnya.
Menurut Muhammad Quthub kesenian Islam tidak harus berbicara tentang Islam, tak harus berisi nasehat langsung, anjuran berbuat kebajikan, atau penampilan abstrak tentang aqidah, tetapi seni Islam adalah seni yang menggambarkan suatu bentuk/wujud, dengan”bahasa” yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah. Jadi seni (musik) Islam bukan saja tilawah, alunan adzan, atau syair-syair lagu berbahasa arab yang mengajak kebaikan semata, namun  juga seluruh lagu anak-anak dengan bahasa yang indah dan tentu saja tidak menyimpang dari ajaran tauhid. Siapa yang bisa mengatakan bahwa lagu Pelangi, Kasih Ibu, Bintang Kecil, Matahari Terbenam, Menanam jagung dan sederet lagu anak-anak lainnya bukan lagu-lagu yang Islami?
Marilah kita tengok syair lagu-lagu yang sudah sangat akrab di telinga kita semasa kecil ini. Lagu Pelangi karya Pak AT Mahmud, adalah lagu yang hebat, lagu yang bertutur tentang keagungan Alloh melalui ciptaan-Nya yang indah. Kasih ibu karya S.M. Mochtar, ajaran moral manakah yang menyangkal keistimewaan, keluhuran, dan ketulusan pengorbanan bunda? Bintang kecil, lagu dengan bahasa ringan penuh daya imajinasi. Saat kita masih bocah, syair lagu ini seolah mengajak kita bertamasya ke dimensi lain, terbang dan menari! Matahari terbenam, mengajak anak-anak memperhatikan fenomena alam yang luar-biasa ini. Pergantian siang dan malam dengan suasana dan bahasa yang khas untuk anak-anak. Siapa yang sangka dari lagu ini nantinya akan melahirkan pemikir dan peneliti muda berbakat, para ulil albab masa depan! Tentu masih segudang lagu-lagu anak-anak dengan muatan kreativitas maupun moral utama. Jadi semua itu adalah lagu Islami, karena berkisah tentang dunia fitrah mereka (anak-anak). Tidak hanya liriknya, bahkan susunan melody dan aransemen musiknya pun ditata khusus untuk konsumsi ana-anak. Yang pelu kita khawatirkan, justru peran media (utamanya televisi) yang tak lagi peduli dengan lagu-lagu edukatif anak-anak. Hampir semua tayangan musik didominai tema lagu-lagu cinta dewasa. Celakanya, acara yang dirancang buat anak-anakpun dikemas ala dewasa. Dari pilihan lagu, desain kostum, serta make up, lengkap dengan gaya panggung dan penari latarnya, semua ala dewasa. Menjadi tidak berlebihan bila begawan pencipta lagu anak Indonesia, AT. Mahmud mengungkapkan kegelisahannya, “Dalam persaingan televisi yang kian ketat, kebutuhan anak-anak akan lagu-lagu mereka sepertinya terlupakan” kata beliau menerawang.

Kalau anda seorang guru anak-anak, tak perlu ragu dengan lagu apa kita bernyanyi, bagaimana kualitas suara kita, dan apakah anak-anak akan suka? Bila lagu mengalun dari bibir orang tercinta, orang terkasih yang disayang dan dihormat, maka anak-anak pasti suka. Sebagai tips sederhana anda memilih lagu anak dan bernyanyi untuk mereka gunakan rumus MUSIK

M : Mudah dan Mantap
Lagu anak-anak hendaknya mudah dinyanyikan. Lagu yang mudah dapat diidentifikasi dari susunan melodinya yang simple dan terjangkau ambitus suara mereka. Lagu yang sulit akan membuat anak frustasi dan cenderung bernyanyi sumbang atau fals. Dan mengajarkannya harus mantap ekspresif, jangan ragu, bimbang dan lemas. Ikhlaskan diri anda bergembira bersama mereka, saat mengajarkan lagu-lagu bernuansa keceriaan. Sebaliknya, sekali waktu ajarkan mereka keseriusan dan suasana khusyu’ saat mengajarkan lagu-lagu bertema keagungan Ilahi. Ekspresi anda dalam menyampaikan lagu seringkali lebih penting dibandingkan konten lagu itu sendiri. Ingat kesungguhan anda berbanding lurus dengan perhatian anak.

U : Unjuk gigi dan Ulangi lagi
Ingat esensi bernyanyi bagi anak bukan menjadikan mereka artis penyanyi, tapi memberi kesempatan aktualisasi diri (unjuk gigi). Maka jangan paksa anak menyanyi sendiri bila tak mau. Saat menyanyi bersama, biasanya mereka akan menyanyi dengan penuh semangat dan antusias. Dari situ tampaklah, lagu menjadi sarana ekspresi yang penting bagi anak-anak. Dan cara mengajarkannya adalah dengan cara mengulang-ulangi. Pengulangan ini bisa dilakukan secara langsung melalui proses pembelajaran, namun dapat pula kita lakukan menggunakan media bantu elektronik. Memutarkan kaset dan cd musik saat anak mengikuti kegiatan di kelas atau saat mereka bermain di halaman adalah pilihan tepat melakukan pengulangan materi lagu yang telah diajarkan.

S : Sederhana, santai dan Senang
Kesederhanaan lagu anak-anak tercermin dari lirik atau Syair yang digunakan. Beberapa pakar mengatakan, syair yang sederhana biasanya memiliki ciri-ciri: pendek, mudah dipahami dan mudah diucapkan anak-anak. Syair yang pendek akan memudahkan anak menghafal. Syair yang pendek membuat anak berkesempatan mengatur nafas saat menyanyi, dan syair yang pendek membuat anak tak mudah bosan. Tujuan mengajak anak berdendang adalah menciptakan suasana santai, senang dan gembira, sehingga anak tak jenuh belajar. Oleh karenanya, cara mengejarkan lagu anak-anak jga harus fariatif, santai dan menyenangkan.

I : Indah makna dan Indah gaya
Guru harus memilihkan lagu dengan keindahan makna bukan sekedar lagu ‘asal-asalan’. Keindahan makna lagu biasanya tercermin dari keindahan bahasa syairnya. Minimnya (sosialisasi) lagu-lagu edukatif untuk anak-anak mendorong banyak guru TK membuat lagu gubahan, dengan menyusun sub lirik baru dari lagu yang sudah dikenal. Langkah ini perlu mendapat apresiasi positif. Selain karena dorongan kreativitas mereka, niatan positif mengajarkan lagu dengan muatan materi yang baik tentu menjadi latar belakang terkuat para guru ini.     Ekspresi gerak Guru saat mengajarkan lagu selain memiliki fungsi meningkatkan gairah dan motivasi belajar, juga bermanfaat sebagai jembatan keledai pengajaran sebuah lagu. Gerak ilustrasi yang dilakukan guru saat menyanyi, tanpa disadari telah membantu dan mempercepat anak menghafal dan menguasai lagu yang diajarkan

K : Ketauladanan seni dan Kantong Ilmu
Gunakan lagu anak-anak untuk mengajarkan konsep-konsep sederhana. Urutan bilangan, nama benda, warna, bahkan kisah tokoh tauladan dapat diajarkan dengan lagu. Itulah sebabnya lagu anak disebut juga kantong ilmu. Artinya lagu membawa “pesan” edukasi pada anak-anak. Pesan-pesan edukatif tersebut tidak harus dimaknai secara formal dan kaku. Akhirnya, bagi anak-anak ketauladanan seni jauh lebih bermakna daripada sekedar tujuan-tujuan ketrampilan seni di depan. Seni yang bersifat indah, jujur, tak meggurui dan membahagiakan semestinya dapat memberi bentuk ketauladanan hidup. Bila anak bahagia belajar maka insya allah akan menjadi pembelajar sejati. Melalui ketauladanan seni, guru dan murid, orang tua dan ana-anaknya saling belajar makna hidup dan kehidupan.
Wahai pribadi-pribadi muslim sejati, jangan malu belajar dari masa lalu. Masa bocah kita, adalah masa dendang kencana indah penuh tauladan moral dan inspirasi kreativitas. Mari berdendang lagi! Mari hidup ceria kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.